
Kabupaten Banjar, FENOMENA.ID – Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar, mewaspadai potensi penurunan hasil produksi padi dampak ratusan hektar sawah alami kekeringan akibat musim kemarau.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Pemkab Banjar, Nurul Chatimah, memprediksi kondisi kemarau Tahun 2026 ini lebih kering dari tahun sebelumnya.
Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hal yang sama. Yaitu, kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih lama.

Menurut Nurul, sapaan akrabnya, ancaman terbesar saat ini bukan terjadinya gagal panen. Namun, penurunan produktivitas padi. Lebih lagi, pada lahan persawahan padi lokal berumur panjang.
“Padi lokal umumnya membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan hingga panen. Jika jadwal tanam tidak sesuai dengan kondisi cuaca, tanaman berisiko mengalami kekurangan air saat fase penting pertumbuhan,” terang Nurul, Selasa (28/7/2026).

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Pemkab Banjar, Nurul Chatimah
Data Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), hingga hari ini sedikitnya 206 hektare lahan sawah terdampak kekeringan.
Sementara itu, belum ada laporan puso atau gagal panen. Lahan terdampak paling banyak berada di Kecamatan Beruntung Baru, Martapura Barat, dan Martapura Timur.
Di Kecamatan Beruntung Baru, sebagian besar tanaman sudah memasuki fase generatif atau menjelang panen.
Kekurangan air pada fase tersebut bisa mengganggu proses pengisian bulir padi sehingga hasil panen menurun.
“Yang kami khawatirkan bukan gagal panen, tetapi produksi akan turun dari tahun sebelumnya,” sesal dia.
Tanaman terdampak merupakan padi yang penanamannya pada periode April hingga Juni 2026.
Sementara, penanaman pada bulan Oktober hingga Maret relatif aman dari dampak kemarau. Sebab, mulai memasuki periode panen.
Dinas Pertanian juga memprediksi luasan lahan terdampak masih berpotensi bertambah, mengingat beberapa wilayah di Kecamatan Mataraman dan Simpang Empat mulai menunjukkan gejala kekeringan.
Hal tersebut terlihat di beberapa areal persawahan mulai alami retak. Namun, belum ada laporan padi mengalami kerusakan berat maupun gagal panen.
Meminimalisir dampak kemarau, Dinas Pertanian terus mengintensifkan penyuluhan kepada petani serta mengoptimalkan pemanfaatan pompa air.
Sebelumnya, pada Tahun 2024, pemerintah daerah setempat telah menyalurkan 219 unit pompa air kepada kelompok tani.
Selain itu, usulan bantuan tambahan sebanyak 225 unit pompa air juga sudah disampaikan dan masih menunggu proses persetujuan Kementerian Pertanian RI.
Penulis : Yuanda
Editor : Abdurrahman

