Kelompok Tani Peduli Api di Banjar Siaga Karhutla

Yuanda
24 Agu 2026 19:30
2 menit membaca

Kabupaten Banjar, FENOMENA.ID  – Dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap sektor perkebunan di Kabupaten Banjar hingga kini belum terindikasi. Dinas Pertanian Kabupaten Banjar menyebut belum menerima laporan adanya perkebunan yang terdampak langsung kebakaran maupun asap.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Abdul Basyid, mengatakan pihaknya terus melakukan langkah antisipasi bersama perusahaan perkebunan dan kelompok tani peduli api.

Sebanyak 32 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) telah dibentuk dan tersebar di sejumlah wilayah, seperti Karang Intan, Mataraman, Simpang Empat hingga Sungai Pinang. Dua di antaranya merupakan kelompok binaan perusahaan karena berada di sekitar kawasan perkebunan.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Abdul Basyid

 

“Sampai saat ini kami belum menerima laporan. Mudah-mudahan sektor perkebunan tetap aman,” ujarnya.

Menurutnya, perusahaan perkebunan juga telah dilibatkan dalam upaya pemadaman apabila terjadi kebakaran di sekitar wilayah operasional mereka, termasuk membantu menangani lahan masyarakat, baik lahan yang masih aktif maupun yang tidak tergarap.

Upaya pencegahan juga dilakukan melalui sosialisasi pembukaan lahan tanpa bakar. Selain itu, sejak Juni hingga Juli lalu, pihaknya telah memasang spanduk larangan membakar lahan di sejumlah lokasi strategis serta balai penyuluhan pertanian di wilayah atas.

Dinas Pertanian juga menyiapkan peralatan pemadam yang dapat dipinjam oleh KTPA apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Abdul Basyid menjelaskan, tanaman perkebunan yang paling rentan mengalami kerugian apabila terbakar adalah karet. Pasalnya, tanaman karet yang terbakar dapat mengalami kerusakan parah bahkan berpotensi mati sehingga tidak dapat kembali disadap.

Sementara tanaman sawit yang terbakar masih memiliki peluang untuk pulih, namun membutuhkan waktu cukup lama.

“Kalau sawit terbakar, masih bisa, tetapi menunggu sekitar dua tahun baru bisa pulih kembali. Kalau karet terbakar, jelas tidak bisa disadap lagi, bahkan bisa mati,” jelasnya.

Meski demikian, untuk pengaruh asap terhadap produktivitas tanaman perkebunan, Abdul Basyid menyebut pihaknya belum memiliki data penelitian yang dapat memastikan seberapa besar pengaruh ketebalan asap terhadap produksi tanaman.

Ia menegaskan, penurunan produksi yang terjadi pada tanaman karet saat musim kemarau merupakan kondisi alami. Salah satunya akibat gugurnya daun yang berpengaruh terhadap proses pembentukan lateks.

Dinas Pertanian pun berharap langkah pencegahan dan keterlibatan petani serta perusahaan dapat menjaga kawasan perkebunan di Kabupaten Banjar tetap aman dari ancaman karhutla.

 

Penulis     : Yuanda

Editor       : Gusdur

x
x