Usung Semangat Nawacita, Guru Bangsa Bergerak Wujudkan Pendidikan Setara

redaksi02
28 Okt 2026 23:19
3 menit membaca

JAKARTA, FENOMENA.ID – Tim Sembilan atau Nawa Guru meluncurkan Gerakan Guru Bangsa di Tjikini Lima, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026). Gerakan ini berfokus pada perluasan akses pendidikan, advokasi pendidikan, kepedulian terhadap lingkungan, serta pembentukan karakter anak.

 

Mengusung slogan “Setara untuk Indonesia”, Guru Bangsa bertujuan mendorong kolaborasi masyarakat agar setiap anak memperoleh kesempatan pendidikan yang setara, tanpa memandang latar belakang maupun tempat tinggalnya.

 

Dalam peluncuran tersebut, Nawa Guru menetapkan siluet Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai ikon gerakan. Para inisiator menilai semangat pemerataan akses pendidikan, termasuk melalui Program Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Pintar, sejalan dengan tujuan Guru Bangsa.

 

Gerakan ini berawal dari kegelisahan tiga aktivis, yakni Nando, Gorbachev, dan Norman, terhadap berbagai persoalan pendidikan. Mereka menyoroti keterbatasan akses belajar, kekerasan fisik dan verbal, serta perundungan terhadap peserta didik.

 

Para inisiator berharap Guru Bangsa dapat melanjutkan semangat Nawacita, terutama dalam memperluas akses layanan pendidikan dan pelatihan, memperkuat pendidikan karakter, serta mendukung upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

 

Selain ketiga inisiator, gerakan ini melibatkan sejumlah aktivis dan pegiat dari berbagai latar belakang, di antaranya Bun Joi Phiau yang merupakan anggota DPRD DKI Jakarta, Susy Rizky sebagai pegiat sosial, Yudi Saputra sebagai organisatoris, Santo Feliks sebagai pengacara, Siti Aisah sebagai pakar hukum, dan Maria sebagai pengamat pertahanan.

 

Nawa Guru menegaskan bahwa Guru Bangsa bukan gerakan politik dan tidak berafiliasi dengan partai, organisasi, maupun kelompok politik tertentu. Gerakan tersebut membuka kesempatan kolaborasi bagi siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan Indonesia.

 

Dalam kegiatan yang telah berjalan, para relawan mengaku menyalurkan ribuan buku dan perlengkapan sekolah kepada siswa yang membutuhkan di sejumlah daerah.

 

Nando mengatakan kegiatan pembagian perlengkapan pendidikan akan terus dilanjutkan melalui jaringan relawan di berbagai wilayah.

 

Sementara itu, Gorbachev menyebut kegiatan menggambar dapat menjadi sarana untuk menarik minat anak, mengembangkan kreativitas, serta membangun kebersamaan. Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi alternatif aktivitas positif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.

 

Norman menambahkan, aktivitas menggambar dan mewarnai dapat membantu anak mengembangkan keterampilan motorik, konsentrasi, ketekunan, kreativitas, dan imajinasi.

 

Guru Bangsa juga berencana memperluas kegiatan sosial di luar sektor pendidikan. Santo Feliks dan Siti Aisah, misalnya, menyampaikan rencana penyediaan bantuan hukum gratis bagi masyarakat yang membutuhkan informasi dan pendampingan dalam memahami persoalan hukum.

 

Menurut Nawa Guru, kegiatan Guru Bangsa telah berlangsung di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara.

 

Ke depan, para inisiator berharap jaringan relawan dapat berkembang hingga tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan untuk memperluas akses pendidikan serta memperkuat kolaborasi masyarakat.

 

Melalui slogan “Setara untuk Indonesia”, Guru Bangsa menargetkan penguatan peran masyarakat dalam mendorong pendidikan yang inklusif, membangun karakter, dan memberikan kesempatan belajar yang lebih merata bagi generasi penerus bangsa.

 

Penulis : Fajrin M

Editor : Mohammad Apriani

x
x