
Kabupaten Banjar, FENOMENA.ID — Suara mesin penggilingan terdengar dari dapur rumah Siti Nurul Hidayah di Kompleks Citra Permata Biru Blok 2, Sekumpul, Martapura.
Di dapur sederhana itu, tulang ikan haruan yang biasanya berakhir sebagai limbah justru diolah menjadi bahan pangan bernilai jual.
Tulang ikan haruan terlebih dahulu diubah menjadi tepung, kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu bahan campuran kue bangkit berbentuk ikan.
Ide tersebut berawal ketika Siti mengikuti pelatihan pengolahan ikan gabus atau haruan yang digelar Dinas Perindustrian Provinsi Kalimantan Selatan. Selama lima hari, peserta mendapatkan berbagai pelatihan, mulai dari pengolahan albumin, abon hingga pembuatan tepung tulang ikan.
Dari pelatihan tersebut, ia kemudian mengembangkan sendiri pemanfaatan tepung tulang ikan haruan untuk produk kue bangkit.
“Waktu itu kami diajarkan membuat tepung tulang ikan dan salah satunya dibuat menjadi kue nastar. Dari situ kami sudah tahu ilmunya, bagaimana membuat tepung tulang ikan,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan tulang haruan juga menjadi solusi atas limbah dari proses produksi berbagai olahan ikan yang selama ini dibuatnya.
Usahanya memang sejak awal berfokus pada pengolahan ikan haruan menjadi berbagai produk, seperti nugget, bakso dan abon. Karena itu, tulang ikan menjadi salah satu limbah yang cukup banyak dihasilkan.
Agar bahan baku tetap tersedia, Siti menggandeng sekitar empat UMKM di Kecamatan Martapura Timur yang juga mengolah ikan haruan.
“Daripada tulangnya dibuang, lebih baik dimanfaatkan. Setiap mereka selesai mengolah ikan, tulangnya dipisahkan dan dibersihkan. Nanti saya ambil atau mereka antar ke sini. Tulang itu juga saya hargai, jadi yang tadinya limbah terbuang bisa menjadi nilai jual tambahan,” katanya.
Untuk membuat tepung, tulang ikan segar membutuhkan proses hingga sekitar dua hari sebelum menjadi serbuk. Tepung tersebut kemudian dicampurkan ke dalam adonan kue bangkit.
Menariknya, kue bangkit tersebut tidak dibuat menyerupai bentuk kue bangkit pada umumnya. Bentuknya justru dibuat menyerupai ikan lengkap dengan mata, sebagai ciri khas produk berbahan dasar ikan haruan.
Untuk kemasan kecil, kue bangkit dijual sekitar Rp15 ribu, sedangkan kemasan lebih besar dibanderol Rp20 ribu.
Pada awalnya, masyarakat masih ragu mencoba karena mengetahui bahan yang digunakan berasal dari tulang ikan. Namun, setelah hampir dua tahun diproduksi, respons konsumen mulai berubah.
“Awalnya banyak yang bingung dan takut karena mendengar tulang ikan. Tapi setelah mencoba, ada yang akhirnya berlangganan. Rasanya manis dan gurih, tidak terasa asin atau seperti tulang ikan,” tuturnya.
Ke depan, Siti berharap ada dukungan peralatan maupun pendanaan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Sebab, proses penepungan tulang ikan saat ini masih menggunakan peralatan sederhana seperti blender.
“Mudah-mudahan ke depan ada investor atau dana CSR yang bisa membantu. Karena ini inovasi dan masih perlu alat untuk mempercepat proses produksinya,” pungkasnya.

