Kabupaten Banjar, FENOMENA.ID – Pemerintah Kabupaten Banjar menggelar rapat koordinasi (Rakor) siaga bencana dan penanganan bencana banjir di Aula Barakat Lantai II Kantor Bupati Banjar, Selasa (6/1/2026) pagi.
Rakor dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudi Andrea, serta dihadiri seluruh SKPD terkait dan para camat dari wilayah terdampak banjir.
Dalam sambutannya, Yudi Andrea menyampaikan perkembangan terbaru terkait penanganan banjir di Kabupaten Banjar. Ia mengungkapkan bahwa Surat Keputusan (SK) status tanggap darurat bencana banjir telah kembali diterbitkan untuk tahap kedua.

“SK tanggap darurat ini sudah diterbitkan kembali tahap kedua. Ini menjadi pegangan kita agar lebih fleksibel bergerak dalam penanganan bencana, karena seluruh upaya didukung oleh status tanggap darurat,” ujar Yudi.
Dengan status tersebut, Yudi memastikan aspek pendanaan, kekuatan unsur, hingga pemberdayaan sumber daya dapat terpenuhi. Ia juga menegaskan bahwa kemampuan daerah dalam menangani bencana tidak perlu diragukan.
“Kita sampaikan bahwa daerah mampu. Kita sudah didukung oleh pemerintah provinsi dan beberapa kementerian. Insya Allah kita kuat dan bisa. Kalau ada yang meragukan kemampuan pemerintah daerah, itu hal biasa,” tegasnya.
Yudi menambahkan, gotong royong seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam penanganan bencana. Meski terdapat perbedaan pandangan terkait kebijakan pemerintah, hal tersebut dinilai sebagai dinamika yang wajar.
Pada rapat tersebut, Yudi Andrea menekankan lima poin penting yang menjadi perhatian bersama. Salah satunya adalah percepatan dan ketepatan distribusi logistik bagi warga terdampak banjir.
“Kita menerima kritik bahwa distribusi logistik dinilai kurang cepat dan kurang tanggap. Ini harus kita terima sebagai bahan evaluasi,” katanya.
Ia menegaskan kepada Dinas Sosial P2KB dan BPBD agar logistik yang tersedia, baik dari pusat, provinsi, maupun APBD, tidak menumpuk di gudang dan segera disalurkan ke masyarakat.
“Kepada para camat sebagai ujung tombak di lapangan, saya minta untuk memetakan desa-desa terdampak, terutama desa yang terisolir. Jika akses darat terputus, segera koordinasikan penggunaan perahu karet atau transportasi air,” jelasnya.
Yudi juga menargetkan agar warga di daerah terpencil yang aksesnya terputus dapat menerima bantuan sembako maksimal dalam waktu 1×24 jam.
“Pastikan masyarakat di wilayah terpencil mendapatkan haknya. Ini sudah hampir tiga minggu lebih, sehingga distribusi bantuan harus benar-benar cepat dan tepat,” pungkasnya
Penulis : Gusdur
Editor : Muhammad Apriani






