Kabupaten Banjar, FENOMENA.ID – Dalam dua pekan terakhir, lonjakan harga elpiji bersubsidi 3 kilogram atau gas melon di tingkat eceran dikeluhkan warga Kabupaten Banjar. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Banjar mulai mengambil langkah pengawasan dan pendataan untuk menelusuri penyebabnya.
Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah Kabupaten Banjar, Rachmad Ferdiansyah, mengatakan bahwa fenomena kenaikan harga ini tidak hanya terjadi di wilayah Banjar, namun juga di sejumlah kabupaten dan kota lain di Kalimantan Selatan.
“Penyebabnya masih kami dalami. Ini bukan hanya masalah lokal, tapi regional. Kami sedang menginventarisasi permasalahan dari hulu hingga ke hilir, mulai dari Pertamina, agen, sampai ke pengecer,” ujar Rachmad usai menghadiri pertemuan dengan sejumlah agen gas elpiji, Selasa (8/7/2025).
Ia menegaskan bahwa berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) di beberapa pangkalan, harga gas melon masih dijual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp18.500 per tabung.
“Di pangkalan masih stabil, harga sesuai HET. Tapi yang menjadi sorotan justru di tingkat pengecer, di mana harganya melonjak dan tidak terkendali,” tambahnya.

Sebagai upaya lanjutan, Pemkab Banjar menggandeng Satgas Pangan dari Kepolisian dan mengundang para agen untuk rapat bersama. Dari 17 agen yang diundang, 10 agen hadir dan menyampaikan sejumlah kendala di lapangan.
“Salah satu penyebab yang disampaikan adalah distribusi dari Pertamina yang tidak berjalan saat hari libur, sehingga suplai ke agen dan pangkalan menjadi tersendat. Ini yang akan kami komunikasikan lebih lanjut dengan pihak Pertamina,” jelasnya.
Pemkab Banjar berkomitmen untuk terus memantau distribusi dan harga gas melon agar tidak memberatkan masyarakat, sekaligus mengantisipasi adanya oknum yang bermain dalam rantai distribusi gas bersubsidi tersebut.